Naik Drastis, Penerimaan Pajak Capai Rp2,767 Triliun

106
Muhammad Yusrie Abas.

KENDARI, beritaklick.com – Kantor Pelayanan Pa­jak (KPP) Pratama Kendari di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) menyebutkan bahwa penerimaan pajak selama tahun 2021 sebesar Rp 2,767 triliun. Capaian kinerja tersebut meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala KPP Pratama Kendari, Muhammad Yusrie Abas saat ditemui di kantornya, Selasa (18/1).

Dia menjelaskan, angka capaian penerimaan pajak tersebut melampaui target penerimaan pajak yang ditargetkan KPP Pratama Kendari pada 2021, yaitu Rp1,545 triliun dan lebih tinggi dari realisasi penerimaan pajak tahun sebelumnya senilai Rp 1,338 triliun.

Dia menuturkan, ada lima sektor terbesar penyumbang penerimaan pajak di KPP Pratama Kendari yaitu sektor konstruksi, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial, pertambangan dan penggalian, perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan dan sektor lainnya.

“Untuk capaian kinerja penerimaan pajak melambat pada tahun sebelumnya disebabkan adanya pandemi Covid-19 sepanjang tahun dan adanya varian delta yang mendorong angka pasien Covid-19 secara nasional maupun di daerah meningkat,” ujarnya.

Lanjutnya, data perkembangan penerimaan pajak tiga tahun terakhir naik turun. Dimana, di akhir tahun 2019 penerimaan pajak mencapai Rp 2,253 triliun dan mengalami penurunan pada 2020 yang tercatat Rp 2,180 triliun dan kembali meningkat hingga akhir Desember 2021 dengan capaian Rp 2,767 triliun, meningkat dibanding penerimaan pada 2019 dan 2020.

“Sebagian besar kegiatan usaha turun sangat tajam karena dilanda Covid-19 sejak awal pandemi penerimaan pajak di 2020 melambat dibanding tahun sebelumnya dan kembali meningkat di 2021, kemudian penurunan penerimaan pajak juga dipengaruhi adanya resisi Pemda refocusing APBN dan APBD sehingga realisasi penerimaan pajak berimbas,” ucapnya.

Kata dia, untuk sektor konstruksi pada tahun 2021 menjadi penyumbang terbesar dari total penerimaan dengan kontribusi sebesar 24,07 persen atau senilai Rp 666,568 miliar. Kemudian sektor administrasi, pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial sebesar 20,97 persen atau Rp 580,766 miliar serta sektor pertambangan dan penggalian sebesar 18,11 persen atau senilai Rp 501,472 miliar.

“Untuk sektor perdagangan besar dan eceran menyumbang penerimaan pajak sebesar 9,42 persen atau Rp 260,934 miliar. Sektor industri pengolahan 9 persen atau senilai Rp 249,125 miliar. Serta sektor lainnya 18,44 persen atau senilai Rp510.670 miliar,” imbuhnya.

Dia menambahkan, adanya kenaikkan harga komoditas ore nikel di pasar internasional maupun di pasar domestik ini mempengaruhi pendapatan pengusaha di sektor pertambangan.

“Kami terus mendorong kepatuhan wajib pajak dengan melaksanakan kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan. Kegiatan intesifikasi, meliputi penyampaian imbauan dan klasifikasi data wajib pajak, pengawasan pembayaran wajib pajak,” tutupnya. (rs/bck)

Penerimaan Pajak Berasal dari Enam Sektor:
– Sektor Kontruksi Rp 666,568 miliar
– Sektor administrasi, pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial Rp 580,766 miliar
– Sektor pertambangan dan penggalian Rp 501,472 miliar.
– Sektor perdagangan besar dan eceran menyumbang penerimaan pajak Rp 260,934 miliar.
– Sektor industri pengolahan Rp 249,125 miliar
– Serta sektor lainnya Rp510.670 miliar

Baca Juga !
Tinggalkan komentar