2022, Para Balon Cakada Harus Mulai Bergerak

35

Beritaklick.com, KENDARI – Pemilihan kepala daerah yang akan dilaksanakan di tahun 2024 menjadi jalan panjang bagi para bakal calon kepala daerah. Waktu yang panjang itu akan menjadi perang stategi dari masing-masing calon.

Pengamat politik Sulawesi Tenggara Dr. Muh Najib Husen, M.Si mengatakan 2024 menjadi sebuah pertarungan yang akan seruh karena akan berimpitan dengan tiga agenda, Piplpes, Pileg dan Pilkada. Tiga agenda besar yang tentunya membutuhkan energi yang besar pula.

“Pemilihan 2024 ini di situlah menariknya. Kita akan melihat kekuatan calon yang akan diuji dan ujian ini sangat ditentukan kapabilitas calon nantinya. Khusus pilgub sendiri, melihat calon mereka bukan orang baru, mereka mempunyai nama dan dikenal di kalangan masyarakat Sultra, baik mereka dari mantan kepala daerah maupun dari wadah-wadah lain,”ucap Najib Husen saat menjadi tamu di Podcast Sultra Harian Rakyat Sultra, Kamis (30/9).

Menurut Najib, untuk pemilihan gubernur, waktu yang lama itu adalah waktu yang harus digunakan dengan baik. Tidak bisa seorang calon gubernur kemudian melakukan sosialisasi menjelang hari H, tapi memang harus dilakukan satu hingga dua tahun, sehingga image (gambaran) pigur melekat dimasyarakat.

“Idealnya, para calon sudah harus start di Tahun 2022. Semua kekuatan harus mulai dimaksimalkan,karena kita bertarung tidak hanya di satu wilayah tetapi 17 kabupaten/kota dengan geografis cukup sullit karena ada yang di pesisir dan terisolir,” ucapnya.

Jika nantinya, Lanjut Najib, para calong belum bisa bergerak diTahun 2022, maka itu menjadi kerugian buat mereka. Meskipun mereka sudah punya basis, tapi dibutuhkan usaha keras untuk nantinya mendapatkan kepercayaan yang kuat dari pemilih.

“Para kandidat yang akan bertarung memang mempunyai basis suara. Namun itu membutuhkan upaya untuk mengamankan agar basis tersebut tetap terjaga. Setelah itu baru bisa keluar ke wilayah yang kemungkinan untuk menang itu sulit,”

“Itu tentunya menggunakan energi yang cukup besar. Apakah mereka mampu mempertahankan basis mereka atau justru kecolongan. Maka itu pergerakan itu tentunya sudah mulai dilakukan,” tuturnya.

Najib mengatakan, berkaca pada pilgub sebelumnya, anomali pemetaan geografis itu sudah terjadi dan menjadi harga mati. Dimana setiap pigur yang maju berpasangan adalah perpaduan dari keterwakilan geografis itu.

“Pilkada 2019 misalnya, tiga calon yang maju merupakan perwakilan dari wilayah daratan dan wilayah kepualauan. Jika calon gubernurnya dari kepulauan, maka wakilnya dari daratan,” katanya.

Pergerakan yang harus dilakukan sedini mungkin itu memang realistis, mengingat pada Tahun 2024 nanti, posisi para calon nantinya setara atau sama, tidak ada lagi calon yang menduduki posisi kepala daerah. Seperti gubernur yang berakhir pada Tahun 2023.”Posisi pejabat kepala daerah memang strategis, tapi kita tidak bisa berharap lebih. Beberapa calon di tahun ini bahkan di tahun 2020 sudah mulai bergerak. Jika ada yang masih diam-diam saja maka itu jadi kerugian untuk mereka,” ucapnya.(klick)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar