Dua Wilayah ini Rawan Karhutla, Sultra Siapkan Personel Tanggap Bencana

29
Gubernur Ali Mazi saat meninjau kesiapan tim bencana Karhutla. Foto: Iwal Taniapa/Rakyat Sultra

TIRAWUTA – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ali Mazi, memimpin Apel Kesiapan menghadapi bencana alam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dalam Wilayah Provinsi Sultra, di Lapangan Kecamatan Lalolae Koltim, Sabtu (10/4).

Selain Plt. Bupati Kolaka Timur (Koltim), Andi Merya, selaku tuan rumah, kegiatan ini dihadiri sejumlah pejabat, antara lain Kapolda Sultra, wakil Kajati Sultra, Danlanal Kendari, Danlanud Haluoleo, Sekda Provinsi Sultra, bupati Kolaka dan puluhan pejabat lainnya baik dari provinsi maupun lingkup Pemda Koltim.

Dalam sambutannya, Gubernur Sultra menyampaikan, salah satu yang menjadi pertimbangan dilaksanakannya apel di Koltim ini, karena setiap tahun terjadi Karhutla di rawa gambut, Kecamatan Lalolae. Pada tahun 2019 lalu, jumlah titik api sebanyak 51, dengan luas area 942 Ha. Asap yang disebabkannya waktu itu, menyebabkan terganggunya aktivitas masyarakat.

Ia pun menjelaskan, Sultra merupakan salah satu provinsi yang rawan Karhutla. Dari seluruh wilayah, ada dua kabupaten menjadi titik paling berbahaya yakni Bombana dengan lahan savana dan Koltim yang memiliki lahan rawa gambut.

Ali Mazi menjabarkan, melalui pantauan satelit Noa 19 Tera Aqua dan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Sultra mengalami peningkatan dari tahun 2016 hingga 2019.
Tetapi pada tahun 2020 mengalami penurunan.

Berdasarkan pantauan satelit Lapan dengan jumlah titik hotspot yang terdeteksi pada 2016 yakni 40 titik, 2017 naik 95 titik, pada tahun 2018 terdapat 215 titik, 2019 meningkat menjadi 417 titik. Sedang 2020 turun hanya 56 titik.

“Untuk 2021 sampai April, titik hotspot yang terdeteksi sejumlah 6 titik. Peningkatan titik hot spot ini terjadi di Bulan September hingga Desember. berdasarkan SNPP Lapan jumlah titik hot spot pada September 2019 berjumlah 69 titik, Oktober 182 titik, November 127 titik,” sebutnya.

Lanjut gubernur, luas areal yang terbakar pada tahun 2016 seluas 589.204 Ha, 2017 1.920 Ha, 2018 2.387 Ha, 2019 2.435 Ha. Sedangkan untuk 2020 mengalami penurunan signifikan, luas areal yang terbakar 451 Ha.

Berdasarkan informasi dari BMKG, pada 2021 musim kemarau diprediksi lebih panjang dibanding 2020, dengan curah hujan rendah. Sehingga kondisi tersebut menyebabkan daun kering, alang-alang, semak-semak dan lain sebagainya memiliki potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Gubernur Ali Mazi, Karhutla menyebakan kerugian yang tidak sedikit, baik secara ekologi, ekonomi, maupun sosial. Asap yang diakibatkan kebakaran hutan lahan tersebut tidak mengenal batas wilayah dan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, khususnya mereka yang berada dekat dengan lokasi TKP sehingga mengganggu aktifitas masyarakat.

Sehingga menghadapi hal itu, pemerintah sudah melalukan persiapan matang, terutama dalam kesiapan peralatan dan sumber daya manusia (SDM), sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, pada Rapat Nasional Penanggulangan Karhutla 22 Februari lalu.

Arahan Jokowi saat itu kata gubernur, mengutamakan pencegahan dengan memperhatikan infrastruktur pemantauan dan pengawasan hingga ketingkat bawah, mencari solusi yang permanen, penataan ekosistem gambut, serta tanggap dan cepat merespon jika terdapat titik api sehingga tidak membesar. Selain itu, penegakan hukum harus tegas kepada mereka yang melanggar hukum.

Salah satu tindak lanjut dari Pemprov Sultra, sesuai arahan presiden ini kata gubernur, adalah melakukan pemetaan dan identifikasi terhadap daerah-daerah yang sering terjadi Karhutla, mulai dari Bombana, Konsel, Konawe, Kolaka, Koltim, hingga Konut.

Pemprov juga sudah meluncurkan program asap digital atau sistem pengendalian Karhutla berbasis digital yang merupakan teknologi pemantauan. Aplikasi ini ditetapkan pada desa-desa yang rawan terjadi karhutla secara berulang-ulang. Salah satu titik yang akan dipasang asap digital ini adalah di rawa gambut, Kecamatan Lalolae, Koltim.

“Guna memaksimalkan hal tersebut, haruslah didukung pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan kehutanan. Apel ini sebisa mungkin menyamakan langkah dan menyatukan tekad untuk saling bahu-membahu dalam menangani kebakaran hutan dan lahan di Sultra,” ujar gubernur.

Senada dengan itu, Plt. Bupati Koltim, Andi Merya mengungkapkan bahwa seringnya terjadi Karhutla di Koltim membuat masyarakat resah. Pada tahun 2019, beberapa warga bahkan mengalami gangguan pernafasan.

Sehingga penanggulangan Karhutla ini, khususnya di Lalolae kata Andi Merya, tidak bisa dilaksanakan sendiri oleh Pemda Koltim, tapi harus semua pihak, mulai dari pusat ke daerah, termasuk perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan.

“Kepada masyarakat, mari kita lebih peduli dengan lingkungan kita, untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan. Kepada penegak hukum untuk lebih tegas, dan kepada penggiat penertiban Karhutla, tetap semangat dan fokus melakukan pencegahan,” tutup orang nomor satu di Koltim itu.(p1/klick)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar