Konsep Pembangunan Jembatan Teluk Kendari Telah Didokumenkan Saat Awal Pemerintahan Ali Mazi Tahun 2003

142

 

 

KENDARI – Kehadiran Jembatan Teluk Kendari tentunya membawa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra). Proyek multiyears yang menelan anggaran sebesar Rp 802 miliar ini menghubungkan dua kecamatan di Kota Kendari yakni Kecamatan Kendari dan Kecamatan Abeli.

Namun, ada hal menarik dibalik pembangunan mengahnya yang masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN), rupanya jauh hari sebelumnya, Gubernur Sultra, Ali Mazi sejak menjabat di periode pertama bersama wakilnya Yusran Silondae pada 2003/2008 silam, ternyata konsep jembatan sepanjang 1,3 km ini sudah menjadi masterplan pembangunan pada waktu itu.

Liaison Officer (LO) Pemprov Sultra dan UHO 2003, Drs Asrun Lio MHum PhD yang kini sebagai kadikbud Sultra, memperlihatkan buku kerja Gubernur Sultra, H Ali Mazi SH pada periode pertamanya di 2003/2008, yang telah menggagas sejumlah pembangunan besar di Sultra, diantaranya Jembatan Teluk Kendari, Tugu Persatuan (MTQ), dan Bandara Internasional Wolter Monginsidi (kini Bandara UHO), Selasa (6/10).

Asrun Lio selaku Liaison Officer antara pihak Pemprov Sultra dan Universitas Halu Oleo (UHO) pada waktu itu mengungkapkan, sejak tiga bulan pertama menjabat sebagai gubernur, tepatnya 25 April 2003 diadakan sebuah seminar nasional untuk membedah pikiran-pikiran Ali Mazi yang tertuang didalam buku kerjanya dikenal dengan sebutan Percepatan Pemerataan Pembangunan Menuju Sultra Raya 2020.

“Pikiran-pikiran gubernur dibedah dari berbagai kalangan. Mulai dari birokrasi dan mantan-mantan gubernur Sultra seperti H Alala, Laode Kaimuddin. Lalu diundang juga para bupati termasuk Bupati Muna pada saat itu Ridwan Bae ikut memberikan sumbangsih pemikiran pada percepatan pembangunan Sultra,” jelas Asrun Lio, Selasa (6/10).

Asrun melanjutkan bahwa
konsep pembangunan Ali Mazi pada waktu itu, tepatnya periode 2003/2008 bertajuk Sultra Raya 2020 saat dirinya menjadi ketua panitia seminar menuturkan bahwa ide jangka panjang 2020 Ali Mazi bukan tanpa sebab. Pasalnya, sambung Asrun, ukuran kemajuan dunia oleh para pakar pada waktu itu menyebut di 2020.

“Jadi wawasan pembangunan beliau itu sudah sampai tahun 2020. Meskipun menjabat hanya 2003 2008, tapi karena mimpi dan doa-doa beliau dijabah Allah, dia menjabat lebih dari 2020. Nah, untuk mendokumentasikan semua pemikiran-pemikirannya, beliau selalu membukukan sesuatu. Pada 2003/2008 beliau membuat buku kerja gubernur untuk dibagikan ke seluruh OPD agar menjadikan program gubernur rujukan untuk kemajuan Sultra,” terangnya lagi.

Alhasil, salah satu konsep Ali Mazi ternyata sudah tertuang dalam buku kerjanya yakni Pembangunan Jembatan Teluk Kendari. Termasuk konsep jembatan yang menghubungkan daratan Buton dan Muna.

“Dalam buku ini pikiran-pikiran beliau sudah dituangkan dalam buku kerjja ini. Salah satu yang sudah terwujud adalah pembangunan Jembatan Teluk Kendari. Dalam buku ini sudah tertuang pada halaman 14. Ini buku dicetak 2003 berarti buku ini, pemikiran gubernur tentang pembangunan Jembatan Teluk Kendari itu sudah ada,” ungkap Asrun Lio.

Termasuk, sambung dia, dalam buku tersebut juga sudah tertulis rencana pembangunan jembatan Buton-Muna. Dibuku itu disebut jembatan Tona singkatan dari Buton Muna. Namun, karena gubernur pada waktu itu tersangkut masalah hukum sehingga rencana pembangunannya tidak lagi berlanjut.

“Alhamdulillah ini (jembatan Buton Muna,red) setelah gubernur presentasi di dihadapan Menteri PUPR sudah ada tanda-tanda akan direstui pembangunanya tahun 2021. Beliau memang orang yang selalu mendokumentasikan pikiran-pikirannya. Artinya, sudah tidak ada klaim dibelakangan hari siapa yang merencanakannya. Sekarang pun dalam wawasan pembangunan dengan pendekatan Garbarata itu sudah dimuat dalam agenda kerja ini,” ungkap Asrun yang belum lama ini definitif menjabat Kadikbud Sultra.

Diketahui, program-program Garbarata didalamnya seperti Sultra Cerdas, Sultra Sehat, Sultra Beriman dan Berbudaya, Sultra Produktif dan Sultra Peduli Kemiskinan.

“Ini tertuang semua dalam buku ini. Beliau itu tidak pernah mencontoh konsep pembangunan orang, tapi konsep pembangunan yang lahir dari pikirannya sendiri. Makanya dua tahun kepemimpinannya, beliau menebitkan satu buku yang disebut Sultra dalam Pikiran Ali Mazi. Buku ini juga memuat gagasan pikiran-pikiran beliau baik pada masa lalu maupun masa sekarang,” tambahnya.

Pembukuan sendiri, lanjut dia, berdasarkan hasil dari pidato-pidato gubernur sejak saat dilantik September sampai tri wulan pertama tahun 2019.

“Itulah supaya publik tahu dan mengerti bahwa Ali Mazi adalah pemimpin yang memiliki misi kedepan,” pungkas Asrun. (r6)