Polda Gandeng Cyber Mabes Polri Buru Pemilik Akun Palsu Penghina Suku di Sultra

Polda Gandeng Cyber Mabes Polri Buru Pemilik Akun Palsu Penghina Suku di Sultra

16

KENDARI – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra) memastikan kasus penyelidikan pelaku penghinaan salah satu suku menggunakan akun facebook palsu tetap berlanjut. Bahkan, untuk memudahkan pencarian Ditreskrimsus
mengandeng cyber Mabes Polri.

Dihadapan awak media, Dirreskrimsus Polda Sultra, Kombes Pol Heri Tri Maryadi mengatakan ada lima kasus akun palsu yang dilaporkan pada Maret, April, Agustus dan September ke Polda Sultra.

“Lima kasus akun palsu, ini ada kaitannya dengan kasus penghinaan yang dilakukan oleh terlapor yakni Gusas N, yang ditangani oleh Polres Kolaka. Bagaimana peran Polda terkait dengan UU ITE adalah penyebarannya sehingga kami proses yang menyebarkan,” ujarnya saat press release, Selasa (22/9).

“Saat ini kita masih bekerjasama dengan cyber Mabes untuk bisa mengungkap akun palsu ini, kita belum tahu pemilik akun palsu ini,” tambahnya.

Kombes Heri menjelaskan, saat pihaknya melakukan penyelidikan siapa yang paling sering melakukan penghinaan tersebut, ternyata yang menyebarkannya juga indikasinya adalah akun palsu.

“Tapi dengan adanya temuan akun palsu ini bisa ditindaklanjuti terkait dengan proses adanya penghinaan secara umum kena UU Pasal 310 KUHP yang sedang ditangani Polres Kolaka. Jadi yang kita proses adalah penyebarannya, yang menshare, yang menposting dengan beberapa pasal-pasal yang dituduhkan,” beber Kombes Heri.

Ia mengungkapkan, penanganan kasus tersebut oleh Ditreskrimsus Polda Sultra dimulai sejak 2018 sampai dengan 2020. Proses penanganannya pun melalui mekanisme yakni verifikasi dan klarifikasi.

Mantan Dirreskrimsus Polda NTT ini
mengaku, pihaknya sudah melakukan pentemuan dengan salah satu suku untuk diberikan penjelasan bahwa UU ITE ini cukup “pelit” dalam mengungkap akun palsu. Pasalnya, kepolisian dibatasi dengan tiga perkara yang bisa dibantu oleh pihak facebook.

“Pertama terkait masalah teroris, terkait pembunuhan dan juga pornografi anak itu bisa dibantu pengungkapan walaupun akun palsu dibisa diungkap, tetapi seperti penghinaan ini tidak bisa dibantu oleh pihak facebook, maka dari itu kita imbau kepada masyarakat agar bijak bermedsos,” cetusnya.

Ia menduga, kasus penghinaan salah satu suku di Sultra sengaja diprovokasi oleh oknum yanh tidak bertanggung jawab sehingga membuat Sultra menjadi tidak kondusif.

“Indikasinya ada yang provokasi agar kondisi Sultra tidak kondusif. Olehnya itu kami coba untuk berkoordonasi sekaligus bekerjasama pada salah satu suku yakni LAT, saling menjaga, sama-sama mengungkap akun palsu, sekaligus menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan secara sendiri,” harapnya.

“Akun palsu tersebut menggunakan orang lain. Seolah-olah milik akun yang asli. Dia menduplikasi, jadi memprovokasi kesannya. Motivasinya tentunya membuat kisruh, apabila kita temukan tentunya kita akan bisa mengetahui motivasi yang sebenarnya dan siapa pemiliknya, apakah masih dalam lingkup wilayah hukum Polda Sultra atau wilayah lain,” tutup Kombes Heri. (klick)