GMNI Minta Kemenag Sultra Proaktif Tangkal Radikalisme

GMNI Minta Kemenag Sultra Proaktif Tangkal Radikalisme

115

KENDARI – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Kendari menyambangi Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tenggara, baru-baru ini.

Kedatangan para demonstran ini tidak lain meminta Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sultra proaktif dalam menangkal paham radikalisme di bumi anoa.

Dalam orasinya di depan Kantor Kemenag Sultra, Shiffu Mbadha selaku
koordinator aksi mengatakan radikalisme yang berunjung pada tindakan terorisme menjadi masalah penting bagi umat islam yang ada di Indonesia.

“Terorisme telah menyebabkan islam di cap sebagai agama teror dan umat islam dianggap menyukai jalan kekerasan suci untuk menyebarkan agamanya. Sekalipun anggapan itu mudah dimentahkan, namun fakta bahwa pelaku teror di Indonesia adalah seorang muslim garis keras sangat membebani psikologi umat islam keseluruhan,” ungkap Shiffu.

Menurutnya, kelompok radikal tersebut berusaha mengganti tatanan nilai yang ada di dalam masyarakat sesuai dengan ideologi yang dianutnya.

“Simbol perjuangan yang mereka usung ialah jihad untuk melawan kekafiran. Radikal dan radikalisme dua istilah kekerasan berbasis agama termasuk aksi terorisme. Radikalisme ini didefinisikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan dan pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis,” terang Shiffu.

Dari situlah lanjut dia, pemerintah akhirnya menerbitkan Peraturan Pemerintah )engganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang perubahan atas undang-undang nomor 17 Tahun 2013 tentang organisasi kemasyarakatan.

“Hadirnya peraturan presiden tersebut seharusnya menjadi payung hukum sebagai landasan untuk memperhatikan langkah-langkah yang telah dilakukan berbagai elemen yang selalu melakukan kegiatan-kegiatan yang hari ini masih nampak secara jelas dan secara terang-terangan. Apalagi hari ini di selenggara telah dipublikasikan di hadapan sosial media seharusnya ini menjadi perhatian penting bagi kita semua,” cetusnya.

Dalam tuntutanya, sambung Shiffu, GMNI Sultra menolak keras hadirnya organisasi yang berbasis khilafah sehingga pihaknya menekankan kepada Kanwil Kemenag Sultra agar turut andil ataupun lebih proaktif dalam mengawal setiap kegiatan khilafah.

“GMNI sultra meminta kepada Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sultra untuk tegas dalam memberantas ormas yang terpapar paham radikal dan mencoba merubah falsafah bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Sementara itu, Sekretaris GMNI Sultra, Ahmad Arfan Mponini juga meminta Kanwil Kemenag Sultra untuk segera membangun jejaring dengan instansi yang berkompeten dalam mencegah radikalisme.

“Kami meminta kepada Kanwil Kemenag Sultra agar sekiranya melakukan langkah-langkah tegas untuk mencegah penyebaran paham-paham radikalisme di tiap pendidikan baik di tingkat institut tinggi maupun di tingkat sekolah-sekolah,” tegasnya.

Respon positif terkait tuntutan mahasiswa ditunjukkan kemenag Sultra. Aksi damai ini akhirnya diterima langsung Kasubag Ortala dan KUB Kemenag Sultra, Abdul Rahman jaya, didampingi Lusiana selaku Kasi Pembimas Kristen Kemenag Sultra.

Menurutnya, terorisme, radikalisme dan kekerasan lainya adalah tindakan buruk yang bertentangan dengan hukum dan kaidah serta norma agama. Katanya, berbagai upaya terus dilakukan pihaknya dalam mengantisipasi masalah radikal tersebut dengan secara terus-menerus melakukan sosialiasikan kepada masyarakat.

“Mari kita bersama-sama memiliki komitmen untuk menolak masuknya faham radikalisme di Sulawesi Tenggara, ” pungkas Ahmad. (click)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar