VDNI Jamin 500 TKA Punya Soft Skil.

109

 

KENDARI- 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) yang didatangkan PT PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di bumi Konawe adalah pekerja yang punya soft skil atau punya keterampilan khusus. Tujuannya yakni mempercepat alih teknologi guna mempercepat pembangunan smelter pabrik pengolahan dan pemurnian bijih tambang.

Apalagi, kata Indrayanto External Affairs Manager, VDNI merupakan perusahaan tambang Tiongkok yang menjadi pemain terbesar dalam industri nikel di Indonesia.

Sejak 2019, ujarnya, VDNI punya ambisi besar. Kedatangan 500 pekerja China akan terlibat dalam proses instalasi tungku smelter. Setelahnya, lanjut Indrayanto, giliran tenaga kerja lokal asli Sulawesi yang akan dikirim ke Tiongkok untuk mendapat pelatihan.

“Kami juga akan mengirim tenaga kerja lokal untuk belajar ke Tiongkok,” kata Indrayanto.

Tahun 2018-2019, terangnya, VDNI sudah mengirim tenaga kerja lokal sebanyak 125 orang. Dan selama satu tahun tersebut, tenaga kerja lokal belajar hingga kini sudah jadi teknisi senior.

“Yang akan dikirim berikutnya adalah yang junior. Jumlahnya akan ditentukan nanti setelah pemasangan smelter,”paparnya.

Lima ratus TKA China yang datang ke Sulawesi, lanjut Indrayanto, bukan untuk bekerja menetap di sana. Mereka akan tinggal di Konawe selama 6 bulan, dan masa kerjanya hanya bisa diperpanjang sekali bila diperlukan.

“Kalau pemasangan (tungku smelter) sudah selesai, ya sudah,” imbuh Indrayanto.

Menurutnya, ratusan TKA China itu bukan ancaman bagi tenaga kerja lokal karena justru akan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi putra-putra Sulawesi.
“Sesuai aturan, seorang tenaga ahli asing didampingi 7-8 orang (tenaga kerja Indonesia). Nah, kalau ada 500 TKA, dikali 7 pendamping, artinya (tenaga kerja lokalnya) ada 3.500 orang. Itu belum termasuk tenaga kerja lokal yang nonskilled,” papar Indrayanto.

Terkait kekhawatiran masyarakat akan risiko penularan virus corona dari para TKA China tersebut, Indrayanto menyatakan pihaknya tak lengah protokol kesehatan.

“Sebelum berangkat ke Indonesia, mereka dikarantina 14 hari. Setelah dinyatakan sehat, baru diterbangkan. Selama perjalanan didampingi tim medis yang terus memantau. Tiba di Kendari, ada screening, pengukuran suhu, dan segala macam sampai harus keluar surat sehat. Dan setelah itu, mereka tidak langsung bekerja, tapi dikarantina lagi 14 hari di bawah pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe dan diperiksa suhunya setiap hari,” kata Indrayanto.

Pemeriksaan terhadap para TKA China tersebut bukan hanya terkait COVID-19, tapi juga hepatitis dan penyakit menular lain.

Sementara itu, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, ratusan tenaga kerja asing asal China itu diperlukan untuk melakukan alih teknologi guna mempercepat pembangunan smelter—pabrik pengolahan dan pemurnian bijih tambang.

Luhut mengatakan bakal ada 5.000 tenaga kerja lokal yang terserap dari kedatangan 500 TKA ahli asal China tersebut. Pemerintah menargetkan membuka 250 ribu lapangan pekerjaan pada 2024 di Sulawesi Tenggara. (wan)