Normal Baru Menuju Pemulihan Ekonomi

208

 

LASIRAMA. SST 

Penulis: LASARIMA, SST (PEGAWAI BPS KOTA KENDARI)

BeritaKlick.com-Coronavirus Disease (Covid-19) menjadi momok yang sangat menakutkan di Indonesia bahkan di seluruh dunia hingga saat ini. Bagaimana tidak, penyebaran virus ini begitu cepat dan mematikan.

Jumlah kasus terkonfirmasi positif sampai tanggal 1 Juni 2020 sebanyak 26.940 kasus bertambah 467 dari hari sebelumnya dengan jumlah kematian pasien covid-19 1.641 orang. Angka ini selalu mengalami trend kenaikkan setiap harinya. Sementara itu, jumlah pasien sembuh bertambah 329 orang. Sehingga total pasien sembuh hingga saat ini menjadi 7.637 orang. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah kasus positif lebih besar dari pasien sembuh setiap harinya.

Upaya penanggulanan Covid-19 telah dilakukan pemerintah pasca World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa wabah Covid-19 telah menjadi pandemi. Artinya, wabah penyakit ini telah menyebar luas secara global. Upaya tersebut berupa himbauan physical distancing atau menjaga jarak aman antara satu orang dengan orang lainnya, karantina maupun isolasi mandiri hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pembatasan tersebut meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat umum, pembatasan kegiatan sosial budaya, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait pertahanan dan keamanan.
Dari sisi anggaran, pemerintah telah melakukan efisiensi anggaran dengan melakukan pemangkasan anggaran non prioritas. Seperti perjalanan dinas, pertemuan dilakukan secara online sehingga menghemat biaya, belanja-belanja lain yang tidak dirasakan lansung oleh masyarakat. Bahkan THR PNS pun ikut tersedot untuk penanganan covid-19.

Anggaran tersebut digunakan untuk pemberian Bantuan Lansung Tunai (BLT) dan bantuan sosial berupa sembako bagi masyarakat kalangan bawah yang terkena dampak covid-19.
Sebagai dampak dari PSBB, sejumlah aktivitas perekonomian terhenti. Banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya karena tidak mampu membayar gaji karyawan akibat minimnya pendapatan. Anjuran bekerja dari rumah (WFH) menjadi suatu dilema bagi perusahaan yang melakukan aktivitas produksi.

Ketika WFH dilakukan, tentu perusahaan tidak akan berproduksi. Tidak produksi, maka tidak ada pemasukan bagi perusahaan, selain itu para pekerja pun tidak mendapatkan gaji. Hal ini memicu munculnya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari berbagai daerah.

Kementrian ketenagakerjaan melaporkan, hingga 12 Mei 2020 jumlah tenaga kerja yang dirumahkan dan terkena PHK di tengah pandemi mencapai 2,9 juta. Jumlah tersebut terdiri dari 1,7 juta orang sudah terdata dan 1,2 juta orang masih dalam proses validasi data. Rinciannya, pekerja formal yang terkena PHK 375.165 orang, pekerja formal yang dirumahkan 1,32 juta orang dan pekerja informal yang terkena dampak sebanyak 314.883 orang.

Ekonomi Melambat

Pandemi Covid-19 tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga melumpuhkan sebagian besar aktivitas perekonomian. Hal ini tercermin dalam pertumbuhan ekonomi yang mengalami perlambatan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2020 terhadap triwulan I tahun 2019 tumbuh sebesar 2,97 persen (y-on-y), melambat dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 5,07 persen. Dari sisi produksi, seluruh sektor ekonomi menunjukkan perlambatan, kecuali sektor/lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi yang mengalami peningkatan, tumbuh dari 7,23 persen pada triwulan I 2019 menjadi 10,67 persen pada triwulan I 2020. Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 3,74 persen.

Begitu pula dengan Sulawesi Tenggara. Dari rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Provinsi Sulawesi Tenggara 5 Mei 2020, pertumbuhan ekonomi juga mengalami perlambatan, tumbuh 4,37 persen pada triwulan I 2020 (y-on-y), melambat dibandingkan triwulan I 2019 yang sebesar 6,39 persen.
Tingkat Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat Menurun
Dari data BPS Sultra menunjukkan, tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga masyarakat Sulawesi Tenggara pada triwulan I 2020 sebesar 5,07 persen, menurun jika dibandingkan dengan kondisi pada triwulan IV tahun 2019 yang sebesar 6,06 persen.

Ini berarti, tingkat konsumsi masyarakat mengalami penurunan.
Saat ini, daya beli masyarakat mengalami penurunan. Di Kota Kendari, pada bulan april 2020 terjadi deflasi sebesar 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan (daya beli) masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup selama masa pandemi Covid-19 mengalami penurunan. Sebagai antisipasi, untuk menjaga agar daya beli masyarakat tetap terjaga, pemerintah telah menyalurkan bantuan sosial berupa BLT, dana PKH, dan kartu sembako.

Normal Baru

Wabah covid-19 diperkirakan akan berakhir juli nanti. Namun, setiap hari harinya, jumlah kasus positif terus bertambah. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita harus terus menjalani hidup dengan kondisi seperti ini, sementara vaksin atau obat wabah mematikan ini tidak akan datang dalam waktu singkat?. Tentu tidak, tinggal di rumah tidak bisa selamanya diterapkan untuk menjaga keseimbangan ekonomi. Produktivitas harus tetap terjaga namun aman dari covid-19.
Untuk itu, diperlukan suatu tatanan, kebiasaan dan perilaku yang berbasis pada adaptasi penerapan hidup bersih dan sehat.

Dari sinilah kemudian muncul istilah normal baru, kondisi ketika kita harus hidup berdampingan dengan ancaman covid-19. Untuk itu, semua orang harus beradaptasi dengan pola perubahan kehidupan baru agar ekonomi berjalan normal dan kesehatan masyarakat pun tetap terjaga tanpa mengabaikan protokol kesehatan dasar, seperti, menjaga jarak antar individu, selalu mencuci tangan, menggunakan masker setiap saat, dan menghindari kerumunan.

Situasi normal baru orang bisa kembali bekerja ke kantor, melaksanakan aktivitas belajar mengajar di sekolah, serta melakukan kegiatan sehari-hari lainnya dengan menjalankan protokol kesehatan dan tetap mewaspadai risiko penularan virus.

Pemulihan Ekonomi
Menurut Mentri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, Pemerintah berencana memberlakukan skenario normal baru dalam waktu dekat dengan memperkuat segi kesehatan dan penyesuaian kegiatan ekonomi agar bisa menekan korban covid-19. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan Program Pemulihan Ekonomi (PEN). B

sektor usaha akan dibuka kembali, seperti sektor industri, pariwisata, perhubungan, manufaktur, perkebunan, hingga perdagangan khususnya pasar tradisional dengan tetap mengutamakan dimensi kesehatan.
Pemberlakuan normal baru akan menjadi sebuah harapan bersama. Dimana Indonesia bisa segera keluar dari resesi perekonomian dalam waktu singkat dan tentunya terbebas dari Covid-19.

Komentar Facebook

BERITA TERBARU

BERITA TERBARU