DPRD Sultra Minta Setop Pengiriman TKA ke Sultra

124

KENDARI – Masuknya 156 orang tenaga kerja asing (TKA) asal China ke Sulawesi Tenggara dalam gelombang pertama kemarin malam, menuai reaksi Anggota Komisi III DPRD Sultra, Sudirman.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini pun berharap kedatangan ratusan pekerja itu menjadi yang terakhir kalinya.

“Jangan lagi ada yang masuk TKA ke Sultra,” katanya saat ditemui di kantornya, Rabu (24/6).

TKA yang akan masuk ke Sultra sebanyak 500 orang. Namun di tahap pertama, perusahaan baru memasukkan 156 orang TKA pada Selasa malam (23/6) melalui Bandara Haluoleo, Kendari.

Menurut Sudirman, DPRD Sultra masih tetap pada sikapnya yang menolak kehadiran TKA asal Tiongkok di daerah ini. Keputusan itu sudah diambil dalam rapat paripurna yang berlangsung beberapa waktu lalu dan hasil rapat tersebut tidak pernah dibatalkan.

Anggota Fraksi PKS ini membeberkan, selain masih adanya pandemi virus Corona di Indonesia, penolakan kedatangan TKA China ini sebenarnya juga diakibatkan karena puncak kekecewaan terhadap investasi yang dilakukan oleh perusahaan yang memakai TKA itu seperti PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stanless Stell.

Selama ini, kata dia, infrastruktur di lingkar tambang kedua perusahaan itu mengalami kerusakan yang membuat akses jalan masyarakat yang bukan pekerja tambang justru menjadi terganggu. “Masyarakat yang biasa memuat kebutuhan perkebunan, pertanian dan peternakan dan kebutuhan pokok sangat terganggu oleh aktivitas (kendaraan perusahaan) tersebut. Sebab kendaraan perusahaan itu kerap melintas di jalan tersebut dan jalan itu merupakan jalan nasional, ” ungkapnya.

Kerusakan jalan di sekitar lokasi perusahaan tambang itu justru membuat masyarakat biasa menggunakan rakit untuk menghindari jalan rusak. Padahal jaminan keselamatan warga dalam menaiki rakit tidak ada sama sekali.

Selain kerusakan infrastruktur, aktivitas perusahaan yang selalu memasukkan TKA selama bertahun-tahun justru menjadi pertanyaan. Sebelumnya kata dia, perusahaan itu telah memasukkan ribuan TKA asal China dalam kurun tiga tahun terakhir.

Masuknya pekerja yang disebut tenaga ahli itu awalnya diharapkan dapat melakukan transfer pengetahuan kepada tenaga kerja lokal. Sayangnya, transfer pengetahuan itu sama sekali tidak berjalan maksimal.

“Kalau sudah berjalan transfer pengetahuan, harusnya 500 TKA asal Tiongkok ini tidak masuk lagi ke Sultra. Kenyataannya, sudah tiga tahun terakhir, TKA masuk terus,” bebernya.

Ia pun menyinggung perusahaan pertambangan yang beroperasi di Sultra seperti Antam. Menurutnya Badan Usaha Milik Negara itu mempunyai smelter yang hampir sama dengan yang dimiliki oleh kedua perusahaan yang ada di Morosi. Akan tetapi, tenaga kerja mereka hampir 100 persen tenaga kerja lokal.

“Makanya TKA yang masuk sebanyak 156 orang ini kita harapkan yang terakhir. Kita juga berharap ratusan pekerja asing itu melakukan transfer pengetahuan dengan pekerja lokal sehingga ke depannya tidak ada lagi TKA di daerah kita,” bebernya.

Ia tidak memungkiri masuknya TKA ke Sultra karena sudah mendapat izin dari pemerintah pusat. Dia berharap pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi turun memantau langsung situasi kebatinan masyarakat dan infrastruktur di lingkar tambang perusahaan. “Jangan hanya izinkan TKA datang tapi tidak melihat kondisi masyarakat dan infrastruktur di lingkar tambang,” pungkasnya. (rs)

Komentar Facebook

BERITA TERBARU

BERITA TERBARU