Ditolak, TKA China Tetap Masuk ke Sultra

91

 

KENDARI – Sebanyak 156 orang tenaga kerja asing (TKA) asal China tiba di Bandara Haluoleo Kendari , Selasa (23/6) pukul 20.30 Wita. Turun dari pesawat Lion Air, para pekerja ini langsung menaiki mobil yang sudah menunggu.

Meski mendapat hadangan ratusan massa di perempatan Ambaipua, namun TKA China berhasil lolos setelah diangkut melewati Kecamatan Konda selanjutnya menuju Kabupaten Konawe.

156 orang ini merupakan bagian dari 500 TKA China yang akan datang ke Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kedatangannya pun menuai penolakan ratusan massa dari berbagai kelompok. Mereka menggelar unjuk rasa di perempatan Bandara Haluoleo Kendari untuk menghalau kedatangan para pekerja asal Tiongkok tersebut.

Mereka pun mulai berunjuk rasa sejak siang hari. Salah satu demonstran, Sarman mengaku menolak kedatangan TKA asal Tiongkok tersebut. Selain karena masih adanya penyebaran pandemi virus Corona, sulitnya warga mencari pekerjaan juga menjadi alasan mereka menyampaikan penolakan.

Ia pun sangat menyesalkan sikap pemerintah yang mengizinkan TKA China masuk ke Sultra.

“Saat banyak warga mengalami kesulitan mencari kerja, kita justru membolehkan TKA China datang ke Sultra,” katanya.

Demonstrasi massa yang menolak kedatangan pekerja Tiongkok ini terus dilakukan hingga petang. Saat aksi masih berlangsung, Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Shaleh tiba tiba muncul. Ketua DPW PAN Sultra ini awalnya berniat ke Bandara Haluoleo Kendari untuk memastikan visa 156 TKA China yang akan datang pada Selasa (23/6). Namun, ia dicegat di perempatan Bandara Haluoleo Kendari oleh massa dan diminta menyampaikan orasinya.

Menyikapi tuntutan massa, Abdurrahman Shaleh pun bersedia menyampaikan orasi. Ia menegaskan DPRD Sultra tetap menolak kedatangan TKA yang tidak sesuai prosedur.

Bahkan dia meminta kepada pihak terkait agar tidak memelintir pernyataannya seperti yang tersebar selama ini.

Menurutnya kedatangan TKA China pada Selasa (23/6) harus dipastikan visanya. Sebab 49 TKA yang masuk beberapa bulan lalu rupanya mengggunakan visa kunjungan (211).

“Makanya kalau TKA yang datang ini tidak memakai visa kerja (312) maka mereka harus dideportasi ke negaranya,” tegasnya.

Setelah berorasi, Abdurrahman Shaleh pun kembali menyampaikan pernyataan di Bandara Haluoleo Kendari di hadapan jurnalis.

Menurutnya masyarakat Sultra sebenarnya menginginkan kejujuran dan keadilan dari pihak perusahaan mengenai kedatangan 500 TKA di Sultra. Perusahaan harus memastikan para pekerja asing ini tidak menggunakan visa kunjungan (211) melainkan visa kerja (312). Selanjutnya, mereka harus dipastikan benar-benar punya keahlian.

“Kalau TKA China tidak menggunakan visa 312 maka negara akan kehilangan kompensasi uang sebesar 100 dolar Amerika Serikat sebulan per satu orang TKA. Selain itu, dengan visa 312 maka TKA China diharuskan membayar pajak penghasilan. Jika gaji TKA China sekira Rp 37 juta per bulan maka mereka akan dikenakan PPh 21 sekira 20 persen atau sekira Rp 7 juta per orang sebulan. Jika diakumulasikan dengan 100 dolar Amerika Serikat, maka negara akan kehilangan pendapatan Rp 9 juta per orang sebulan kalau TKA tidak memakai visa 312,” akunya.

Abdurrahman mengungkapkan, jika 1.000 orang TKA China yang datang ke Sultra sebelumnya memakai visa kunjungan (211) maka negara kehilangan pendapatan sekira Rp 9 miliar per bulan. Jika dikalikan 10 bulan maka total pendapatan yang tak masuk ke negara sekira Rp 90 miliar.

“Makanya, kami inginkan mereka (perusahaan, red) memakai asas keadilan ,” jelasnya.

Jika TKA China memakai visa kunjungan (211),katanya, mereka sama saja melanggar ketentuan pidana yang diatur dalam undang undang imigrasi. Dalam ketentuan itu, sanksi bagi pelanggaran tersebut yakni hukuman penjara selama lima tahun dan denda Rp 500 juta.

“Kita tidak anti investasi, tapi kami ingin TKA harus tegakkan aturan yang ada (ketika masuk ke Sultra). Sehingga investasi yang masuk ini bisa memberikan kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.

Menurutnya manakala TKA yang datang pada Selasa (23/6) sudah memakai visa kerja (312) maka pemerintah harus kembali memastikan apakah TKA itu benar benar punya keahlian. Karena itu, pihaknya ke depan akan terus mengawal masalah tersebut.

Saat TKA China tiba, Abdurrahman pun sempat melakukan pengecekan secara acak terhadap visa 15 TKA. Dan ternyata para pekerja itu memakai visa kerja 312.

Meski begitu, pihaknya akan terus melakukan pengawasan untuk memastikan 156 orang TKA Tiongkok yang masuk tadi malam memakai visa kerja 312. (rs)