KENDARI-Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sulawesi Tenggara Abdul Halim Momo berharap, dalam suasana Hari Pendidikan Nasional saat ini, guru tidak membebani psikis siswa dengan memberikan tugas-tugas atau soal-soal berat di tengah wabah virus corona jenis baru (COVID-19).

“Kita tidak boleh samakan beban pendidikan pada saat pendidikan formal atau di luar musim corona dan pada saat corona. Pada saat anak-anak libur karena corona atau belajar dari rumah itu tidak bisa kita samakan suasananya dengan pendidikan formal,” kata Halim saat diwawancara via telepon selulernya di Kendari, Sabtu.

Menurut Halim, proses pendidikan saat wabah corona membuat guru dan siswa tidak bisa melakukan interaksi langsung, sehingga yang harus dilakukan adalah tidak membuat siswa stres dengan banyak beban tugas. Karena, kata dia, pada saat siswa menjalani pendidikan secara formal, tentu para siswa mempersiapkan dirinya, baik secara psikis maupun secara fisik.

“Karena suasananya bukan suasana belajar, tetapi suasana bersama keluarganya, bersama saudaranya, bersama adiknya sehingga kalau dia dijejali tugas-tugas atau soal-soal yang sama pada saat pendidikan formal, itu tidak akan menghasilkan makna apa-apa, justru melahirkan anak-anak kita yang stres,” ujarnya.

Menurut Halim, seharusnya guru lebih banyak memberikan tugas-tugas emosional dan ada pengayaan-pengayaan yang menyenangkan dan mengembangkan kognitif sehingga mendorong siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan, tetapi tidak terbebani secara full, namun lebih banyak nuansa bercerita soal moral.

“Lebih banyak pembelajaran-pembelajaran yang dibangun itu misalnya bagaimana melahirkan kesetiakawanan di antara anak-anak didik, bisa melahirkan rasa empati, rasa sayang, dan rasa perhatian terhadap anak bangsa yang lain,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa meskipun seorang guru mempunyai tugas dan kewajiban untuk mendidik siswanya, namun dia juga menyampaikan bahwa seorang guru juga harus membangun hubungan keluarga yang baik karena hal itu mendukung pembelajaran bagi siswa.

“Hubungan keluarga misalnya, guru yang bersangkutan tetap di dalam melaksanakan tugas atau menggugurkan kewajibannya, saya kira dia juga tidak boleh mengabaikan tugas-tugas kesehariannya sebagai ibu rumah tangga atau sebagai kepala rumah tangga,” ucapnya.

“Jadi harus berbanding lurus antara bagaimana membangun kecerdasan emosional (siswa) dan sebagainya, tetapi suasana keharmonisan keluarga itu lebih penting karena dari sanalah dimulai kerja masa depan dan cita-cita masa depan dimulai dari keluarga,” katanya.

Pada kesempatan itu pula, Halim mengajak seluruh pihak untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan bersama-sama bahu membahu melawan wabah virus corona.

“Jika ada seseorang terpapar atau positif COVID-19, kita harus menjauhi secara fisik, tetapi kita dekat secara nurani. Yang dijauhi bukan orangnya, tetapi yang kita waspadai adalah virus coronanya,” katanya.(klick/antara)