Amankah Berpuasa di Masa Pandemi Covid-19 ?

8

Amankah Berpuasa di Masa Pandemi Covid-19 ?

Oleh:
Bambang Budiono,
(Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Makassar, Pemerhati Masalah Kesehatan)

Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di Dunia, bulan ramadhan adalah bulan yang ditunggu tunggu, dan tinggal menghitung hari. Puasa bersifat wajib untuk dilakukan umat muslim, khususnya saat bulan Ramadhan, terkecuali jika sakit dan dianjurkan oleh dokter untuk tidak berpuasa. Tersebar ‘broadcast’ di media sosial yang gencar menyampaikan agar masyarakat sering minum agar mukosa di sekitar rongga mulut tidak kering sehingga tak mudah terinfeksi Covid-19. Di masa pandemi Covid-19 yang masih menuju puncak beberapa bulan kedepan, anjuran tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah aman untuk menjalankan ibadah puasa. Para ahli mengatakan bahwa air minum tentu dapat mencegah dehidrasi, tetapi tidak akan mencegah siapa pun dari terkena infeksi Covid-19. William Schaffner, seorang ahli penyakit menular di Vanderbilt University, mengatakan bahwa minum lebih banyak air tidak akan mencegah siapa pun dari terjangkit virus.

Puasa dan Imunitas

Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa puasa bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Menarik untuk melihat bagaimana fenomena tubuh merespons kondisi puasa. Berbagai penelitian memperlihatkan berpuasa dapat meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh, bahkan pada orang tua. Para peneliti mengatakan puasa “mengaktifkan saklar regeneratif” yang mendorong sel punca untuk membuat sel darah putih baru, yang pada dasarnya meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh. Dengan kata lain menyingkirkan bagian-bagian dari sistem yang mungkin rusak atau tua, bagian yang tidak efisien, selama puasa. Menurut Prof. Valter Longo, Profesor Gerontologi dan Ilmu Biologi di University of California, ini memberi sinyal ‘OK’ bagi sel punca untuk terus berkembang biak dan membangun kembali seluruh sistem kekebalan tubuh. Namun demikian, beberapa peneliti lain menyatakan, bukan puasa itu sendiri yang merangsang peningkatan sistem pertahanan tubuh, tetapi asupan nutrisi pasca puasa lah sebenarnya yang melakukan.

Uji coba binatang

Selama beberapa dekade, para ilmuwan dan dokter telah berspekulasi tentang efek perilaku penyakit tertentu, yang menyerupai orang sedang berpuasa, pada sistem kekebalan tubuh dan perjalanan penyakit. Untuk menyelidiki fenomena ini, tim peneliti Yale, yang dipimpin oleh ahli imunobiologi Ruslan Medzhitov, mengamati dampak nutrisi pada tikus yang terinfeksi virus atau bakteri umum. Menurut Medzhitov, ketika hewan terinfeksi, mereka menjadi malas makan dan beralih ke mode metabolisme puasa. Pertanyaannya kemudian adalah apakah metabolisme puasa bersifat protektif atau merugikan. Ketika para peneliti memberi makan hewan-hewan itu, mereka menemukan bahwa mereka yang terinfeksi virus selamat, tetapi yang terinfeksi bakteri terjadi perburukan akibat penyakit itu dan berakhir dengan kematian.

Dengan menguji nutrisi individu (lemak, protein, dan glukosa), mereka menentukan bahwa glukosa bertanggung jawab atas efek berlawanan nutrisi pada infeksi. Tim kemudian mengulangi percobaan, tetapi menggunakan bahan kimia untuk memblokir metabolisme glukosa. Hasilnya terbalik: tikus yang terinfeksi bakteri selamat, dan tikus yang terinfeksi virus tidak. Dengan kata lain, ketika tubuh mengalami penurunan kadar gula darah, maka lebih rentan untuk terinfeksi virus.

Efek nutrisi yang berbeda pada infeksi virus dan bakteri dapat dijelaskan oleh perbedaan dalam respon imun, kata para peneliti. Infeksi bakteri dan virus menyebabkan berbagai jenis peradangan yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Bergantung pada penyebab infeksi, nutrisi dapat membantu atau menghambat kemampuan tubuh untuk mentolerir peradangan. Telah diamati, bahwa selama infeksi virus, makanan akan menyediakan glukosa, yang mungkin diperlukan untuk bertahan hidup, sebaliknya berpuasa menyebabkan produksi keton – jenis bahan bakar lain – yang dapat membantu hewan menoleransi infeksi bakteri, katanya. Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan, temuan ini bisa memiliki implikasi bagaimana kita memilih asupan saat berpuasa di masa pandemi COVID-19.

Pemilihan Diet

Seperti yang telah banyak diketahui, telah banyak bukti kuat mendukung manfaat diet rendah karbohidrat terhadap kesehatan, menjaga gula darah dan berat badan agar tetap terkontrol. Tampaknya individu dengan diabetes tipe 2 dan kondisi metabolisme lainnya berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi dari COVID-19. Bukti jelas bahwa diet rendah karbohidrat dapat menjadi alat yang efektif untuk mengobati dan membalikkan kondisi metabolisme ini. Meskipun tidak dapat dibuktikan bahwa nutrisi rendah karbohidrat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh sendiri, masuk akal untuk membatasi kondisi (mis. Tekanan darah tinggi atau gula darah tinggi) yang mungkin memperburuk keadaan.

Satu studi pada binatang coba baru-baru ini menunjukkan bahwa diet keto mengurangi risiko tikus yang terinfeksi influenza. Namun itu tak berarti diet keto akan melakukan hal yang sama untuk influenza pada manusia atau untuk COVID-19.

Tips

Dengan mengingat bahwa secara umum berpuasa membuat tubuh kita relatif lebih rentan terinfeksi virus, berikut ada beberapa tips utama untuk mengurangi risiko terkena virus atau mengalami komplikasi dari COVID-19 dengan cara meningkatkan upaya proteksi, sehingga kewajiban untuk menunaikan ibadah puasa dapat dilakukan dengan aman.

Kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan dengan sabun selama 20-40 detik sebelum menyentuh area wajah, dan menjaga jarak sosial yang baik dapat membantu mencegah terserang virus. Secara umum, kita dapat mengambil manfaat dari berbagai upaya pencegahan tertular virus dengan melakukan beberapa hal berikut:    

Saat berbuka atau sahur usahakan makanan bergizi, dan yang meminimalkan peningkatan gula darah berlebihan. Tentu saja, ini hal yang relatif sulit dihindari, karena saat berbuka puasa sudah menjadi tradisi untuk menyantap minuman dan makanan manis. Telah banyak dibuktikan bahwa diet tinggi kadar gula memiliki dampak negatif terhadap sistem kekebalan tubuh, dan juga bersifat pro-inflamasi.
Memprioritaskan tidur nyenyak dengan cukup, sekurangnya 7-9 jam sehari untuk orang dewasa hingga lanjut usia.
Mengelola stres.     
Berhenti merokok sekalipun telah berbuka puasa.     
Melakukan olahraga ringan yang disukai.
Dapatkan sinar matahari dan udara segar jika memungkinkan.
Menggunakan masker dan tetap menjaga jarak fisik jika harus keluar rumah.

Menghindari diet tinggi karbohidrat sebaiknya dipertahankan seumur hidup. Bukan hanya saat pandemi COVID-19 saja. Selamat menjalankan ibadah puasa dengan aman.(**)

Komentar Facebook

BERITA TERBARU

BERITA TERBARU