Selamat Jalan Bang Sofyan

4

Foto : Sofyan Lubis

***Catatan Ilham Bintang

BERITA duka sore ini sungguh mengejutkan. Jakarta tiba-tiba diselimuti mendung di hampir semua wilayahnya, tatkala berita duka itu muncul di layar ponsel saya: Wartawan senior Sofyan Lubis meninggal dunia Minggu (2/9) pukul 16.00 WIB di RS Gading Pluit, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Innalillahi Wainnailaihi Rojiun.

Selasa (28/8) lalu saya masih sempat berbicara dengan mantan Ketua Umum PWI itu di kantor PWI Pusat. Biasa. Setiap bertemu pria murah senyum ini kami selalu bergurau. Banyak jokenya. Ahli pantun.

Kami makan bersama siang itu. Menikmati menu nasi dengan lauk bawal goreng dan sop tulang Iga. Menu langganan setiap rapat PWI. Saya melihat Bang Sofyan cukup bersemangat bersantap. Tanda makanan itu memang cocok. Tanda dia sehat.

Setelah bersantap, dilanjutkan dengan rapat pleno. Saya mendapat jatah waktu berbicara pertama. Presentasi hasil kerja Tim Pencari Fakta PWI atas kematian wartawan M Yusuf di Kota Baru, Kalsel. Topik kedua laporan mengenai rekomendasi Dewan Kehormatan PWI berkait salah satu pengurus PWI di sebuah provinsi.

Bang Sofyan sempat berpendapat. Saya memintanya. Bang Sofyan mengatakan pelanggaran etik memang menjadi ranah DK-PWI. Karenanya rekomendasinya harus dilaksanakan oleh pengurus pusat. Ia juga memberi referensi. Di masa ia menjadi ketum PWI beliau melaksanakan rekomendasi pemecatan terhadap seorang anggota.

Bang Sofyan memang cukup lama berkecimpung di PWI. Di tahun 70-an pernah menjadi pengurus PWI Jaya Seksi Film. Pernah menjadi Ketua PWI Jaya. Sebelum terpilih sebagai Ketua Umum ( 1988-1993), Sofyan Lubis lima tahun menjadi Sekjen organisasi wartawan terbesar itu. Khatam persoalan organisasi.

Kehadirannya dalam rapat-rapat PWI selalu ditunggu. Menjadi juru penerang untuk topik-topik yang kerap diperdebatkan peserta rapat.

Pengabdiannya di dunia pers tidak pernah berhenti. Setelah pensiun dari Pos Kota, Sofyan Lubis menulis banyak buku. Bukunya yang terbaru kisah hidup Sofyan Lubis “Dalam Kemelut Pers Orde Baru”.

Buku ini diterbitkan oleh Panitia Hari Pers Nasional 2018. Peluncurannya pada puncak HPN di Padang, Sumatera Barat. Buku itu bersama puluhan buku lainnya diserahkan Ketua Umum PWI Pusat Margiono kepada Presiden Jokowi.

Selain menulis buku, Bang Sofyan juga memanfaatkan waktunya untuk mengurus masjid. Setiap tahun aktif mengumpulkan Al Quran dari para sahabat untuk disumbangkan kepada banyak mesjid.

Setiap subuh Bang Sofyan tak lupa mengirim pesan- pesan kebajikan kepada sahabat-sahabatnnya. Aktifitas yang luar biasa mulia di ujung usia.

Minggu pagi Ibu Hajjah Evy Sofyan Gandasasmita, isterinya, mengirim pesan di group WA pengurus PWI seluruh provinsi. Bang Sofyan sakit. Minta didoakan untuk kesembuhannya. Tidak ada penjelasan mengenai sakitnya. Saya kontak Toto Irianto, Pemred Pos Kota. Toto menjelaskan Bang Sofyan ada masalah di lambung.

Siang muncul informas soal penyakitnya. Bang Sofyan akan menjalani operasi usus buntu. Yang mengingormasikan itu istrinya. Maka saya pun merespons. Insya Allah, Bang Sofyan segera sembuh. Operasi usus buntu, operasi ringan, bu. Ringan saya menyampaikan itu. Karena faktanya memang demikian. Saya juga pernah alami.

Pukul 16.20 WIB Toto Irianto mengirim berita duka itu: Bang Sofyan meninggal dunia. Siapa yang bisa menduga Bang Sofyan pergi secepat itu. Masih segar ingatan pada pertemuan terakhirnya yang belum sampai seminggu. Tiada tanda-tanda menderita sakit.

“Selain usus buntu ada komplikasi penyakit lain,” kata Toto kemudian. Apa itu? Tak dijelaskan.

Sofyan Lubis lahir di Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara 74 tahun lalu.

Wartawan senior murah senyum, banyak joke, ahli pantun itu telah pergi selamanya. Mantan anggota Komisi I DPR RI ini meninggalkan seorang istri dan empat anak. Selamat jalan Bang Sofyan. Insya Allah Husnul Khotimah.

Mudah-mudahan Allah SWT telah menyediakan tempat yang layak, nyaman, dan indah di sisiNya. Setimpal dengan amal dan ibadah Anda sebagai orang baik. (fjr)

Komentar Facebook

BERITA TERBARU

BERITA TERBARU