BI Tanggapi Melemahnya Rupiah

87

Foto : Suasana konferensi pers di kantor BI Sultra, kemarin (7/9).

Beritaklick.com | KENDARI – Bank Indonesia perwakilan provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), menyikapi terkait melemahnya nilai tukar rupiah. Dimana, faktor utamanya yakni ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuhnya diluar perkiraan, lebih baik pertumbuhannya sehingga ekonomi meningkat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Sultra, Minot Purwahono di kantornya, Jumat (7/9).

Dia menuturkan, pertumbuhan ekonomi AS yang semakin membaik, memberikan dampak diberbagai negara. Bahkan bukan hanya Indonesia, Turki, dan lainnya. Kebijakan ekonomi AS, ada berbagai negara lain juga yang turut merasakan dampaknya.

“Kita kena dampak, dimana, AS produk ekonominya tinggi, investasi sangat tinggi, kapasitas produksi tinggi, pembiayaan membaik, sehingga ekonomi AS meningkat tinggi. AS menaikan suku bunga, ada potensi atau peluang untuk investasi karena suku bunga yang tinggi di AS, sehingga para investor memindahkan dananya, namuhn BI harus tetap responsif,” ungkap Minot.

Dirinya mendorong kegiatan sektor real untuk menguatkan ekonomi Indonesia. Pemerintah diharapkan agar mengurangi impor dan pelaku usaha lokal meningkatkan ekspor sehingga mengurangi defisit.

Pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak panik, karena inflasi terkendali secara nasional di angka 3 persen. Kemudian dengan menaikan suku bunga, inflasi Indonesia aman aman saja. Harga bahan pokok juga tidak meningkat drastis dengan melemahnya nilai tukar rupiah.

“Pelaku usaha ekspor di Sultra berupa barang lokal ini bisa mendorong juga karena secara pasar nasional kita lebih murah,” ujarnya.

Katanya, melemahnya nilai tukar rupiah juga di dorong tingginya barang-barang impor, dimana barang modal juga masih banyak diimpor dari luar terkait infrastuktur dan pusat-pusat pertambangan untuk buat smelter. Indonesia untuk melakukan ekspor dan impor di luar negara masih menggunakan kapal asing.

“Lemahnya nilai tukar rupiah sampai menyentuh Rp14.979 per dollar AS pada penutupan perdagangan (5/9), membuat BI juga mendorong ekspor dari sektor perikanan maupun cacao,” tutupnya. (p9/efn/rs)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar